• Hubungi Kami(024) 7623256
  • Login

Sejarah Panjang SD Negeri Ngaliyan 01

Berdasarkan penuturan dan informasi dari beberapa sesepuh dari tahun 1960 sampai 2007, antara lain Alm. Bapak Pasidin (Dk. Kliwonan), Alm. Bapak Saman (Dk. Desel), Alm. Bapak Kemat (Dk. Ngaliyan) dan Alm. Bapak Supardin (Dk. Pengilon), riwayat SDN Ngaliyan ditulis dan dirangkum supaya akhirnya masyarakat dapat mengetahui dengan lebih jelas kisah sejarah lahirnya SD Negeri Ngaliyan 01 sampai saat ini.

Keberadaan SD Negeri Ngaliyan 01 telah lama diketahui, yakni sejak 1918, bertepatan dengan dibangunnya Bendungan Siingas di sebelah selatan Makam Ngaliyan. Angka tahun 1918 dapat ditemukan jelas pada pintu Bendungan Siingas tersebut. Pada tahun ini, SD Negeri Ngaliyan 01 masih dikenal dengan sebutan Sekolah Rakyat (SR) dalam nuansa penjajahan Belanda.

Pada awalnya, SD Ngaliyan dibangun di depan Makam Ngaliyan , terdiri dari dua ruang kelas saja. Lokasi saat ini telah dipakai untuk menyelenggarakan TK Pertiwi. Dinding dan langit-langit waktu masih berupa anyaman bambu. Namun, saat ini, dinding sudah direnovasi menjadi dinding tembok.

Bapak Markam (1947) sebagai Kepala Sekolah awal. Namun, Kepala Sekolah sebelum Bapak Markam kurang jelas siapa. Selanjutnya, kepempinan Kepala Sekolah dilanjutkan oleh Bapak Redjo (1948-1953). Pada Buku Induk No. 1 terdapat surat yang ditinggal dan berbunyi bahawa sekolah dibuka mulai tanggal 01 April 1948 sampai tanggal 18 Juni 1948. Karena meletus revolusi, yakni Agresi Militer Belanda, selama 4 tahun sekolah ditutup. Baru, pada tanggal 01 September 1952, sekolah dibuka kembali. Jadi, anak-anak mengikuti pelajaran waktu itu hanya tiga bulan, yakni dua bulan pada tahun 1948 dan satu bulan pada tahun 1952.

Ketika Bapak Kamadi (1954-1956) dan Bapak Sutanto (1957-1960) menjabat sebagai Kepala Sekolah, sekolah ini hanya sampai kelas III (tiga). Baru, pada tahun pelajaran 1960/1961, dibukalah kelas IV. Setelah lulus dari kelas IV, para murid dipersilakan untuk melanjutkan pendidikan kelas V di SD Jrakah yang saat ini dikenal sebagai SD Negeri Purwoyoso 01.

Pada waktu Bapak Sugeng (1961-1970) menjadi Kepala Sekolah, tepatnya pada tahun pelajaran 1964/1965, dibukalah kelas V (lima). Namun, karena jumlah murid bertambah sangat banyak, hingga tahun 1971, Kepala Sekolah Bapak Nuryadi (1970-1971) mempersilakan para murid untuk meminjam rumah-rumah penduduk sebagai tempat belajar karena gedung sekolah kurang memadai untuk pelajaran. Atas kerja sama dan gotong royong dengan masyarakat setempat, akhirnya pada tahun 1972, Bapak Yudiarso (1971-1972) sebagai Kepala Sekolah meminta para murid belajar kembali di sekolah karena telah dibangun gedung sekolah yang lebih memadai.

Dalam masa kepemimpinan Bapak Sukaryanto, BA (1972-1974) dan Bapak Sukartono (1974-1982) pernah dilakukan usaha untuk menggarap tanah bengkok guru yang merupakan calon lokasi untuk SD Negeri Ngaliyan 01 saat ini. Tanah tersebut berada di sebelah timur jalan raya. Selama itu, tanah digarap bersama dengan para murid, dan hasil penjualan dari hasil kebun kemudian dipakai untuk membeli almari dan meja sekolah. Keberadaan tanah tersebut miring sehingga diperlukan banyak tanah lagi untuk menimbun supaya cocok dipakai sebagai lokasi bangunan gedung sekolah.

Pada tahun pelajaran 1976/1977, dibukalah SD Ngaliyan 02 yang sekarang dikenal sebagai SD Negeri Tambakaji 04 di sebelah barat jalan raya. Sementara, tahun pelajaran 1978/1979, dibukalah SD Ngaliyan 03 yang sekarang dikenal sebagai SD Negeri Ngaliyan 02 sebelum terkena proyek jalan tol dengan Kepala Sekolah Bapak Sahmat.

SD Ngaliyan 01 dan SD Ngaliyan 02 waktu itu dijadikan satu lokasi baik ruang kelasnya maupun segala fasilitasnya. Karena jumlah murid bertambah cukup banyak, dibukalah kembali SD Ngaliyan 04 pada tahun 1982 dengan Kepala Sekolahnya adalah Bapak Sukartono. Lokasi SD Ngaliyan 04 ini berada di sebelah timur jalan raya juga, tepatnya di sebelah utara kantor Kelurahan Ngaliyan, tepat berlokasi di tanah bengkok guru tadi. Tentu saja, tanah bengkok guru yang miring ini telah ditimbun dan tambahan tanah sebanyak 125 dam truk tanah. Dana yang dipergunakan untuk meratakan tanah berasal dari sumbangan wali murid.

Pada tahun 1982, Bapak Soeparno, WH (1982-1993) sebagai Kepala Sekolah memindahkan SD Podorejo 02 ke SD Ngaliyan 01. Sementara, pada tahun 1983, dibukalah TK PGRI bersama dengan Kepala Sekolah SD Ngaliyan 02. Pada masa ini, gedung SD Ngaliyan 01 yang membujur ke barat di sebelah utara mulai memiliki gedung yang baru. Sementara, SD Ngaliyan 02 yang sekarang dikenal sebagai SD Negeri Tambakaji 04 membujur ke selatan di barat jalan raya. Semula, kantor SD Ngaliyan 01 menjadi satu dengan SD Ngaliyan 02, namun, perlahan, ruang kantor SD Ngaliyan 04 berpindah pula ke SD Ngaliyan 04 di sebelah timur jalan raya. Sementara, kantor SD Ngaliyan 01 masih tetap di sebelah barat jalan raya.

Karena mengalami pertambahan jumlah murdi yang cukup banyak, pada tahun ini pula, ada beberapa murid kelas paralel yang dipindahkan ke sekolah yang baru, yakni SD Ngaliyan 05 yang dulu pernah dikenal pula sebagai SD Purwoyoso 11.

Pada tahun 1985, pemerintah memberikan bantuan untuk membuat gedung bagi SD Ngaliyan 01, satu lokasi dengan SD Ngaliyan 04, berupa lima ruang kelas. Maka, sampai periode ini, SD Ngaliyan 01 memiliki tiga ruang kelas di sebelah barat jalan raya, dan 5 ruang kelas di sebelah timur jalan raya.

Pada tahun pelajaran 1987/1988, SD Ngaliyan 01 membuka lagi SD Ngaliyan 06 yang nantinya akan berkembang menjadi SD Ngaliyan 07 dengan Kepala Sekolahnya bernama Ibu Purwati. Namun, meskipun telah dibuka SD yang baru, ruang kelas masih belum tersedia karena pemerintah belum membangun lagi gedung yang baru. Maka, proses pelajaran SD Ngaliyan 06 menempati ruang kelas SD Ngaliyan 01 dan SD Ngaliyan 04. Baru di tahun 1990, gedung dua lantai dapat dibangun.

Pada tahun 1991, karena jumlah murid kelas paralel cukup banyak, yakni dari kelas I sampai kelas VI, pemerintah memisahkan kembali kelas paralel tersebut menjadi sebuah sekolah, yakni SD Ngaliyan 07 yang nantinya akan berganti nama kembali menjadi SD Ngaliyan 08 dengan Kepala Sekolahnya bernama Bapak Supratisno. Lokasi SD Ngaliyan 07 (saat ini menjadi SD Negeri Ngaliyan 03) ini ada di sebelah timur Kantor Polisi Sektor (Polsek) Ngaliyan saat ini.

Masa perkembangan terus berlanjut sampai saat Ibu Yetti (1994-2003) menjadi Kepala Sekolah. Pada masa Bapak Dimun (2003-2004) menjadi Kepala Sekolah selanjutnya, tepatnya pada tahun 2003, berkat kerja sama dan gotong royong dengan wali murid SD Ngaliyan 01 dan bantuan dari pemerintah, dibangunlah tiga ruang kelas tambahan di SD Ngaliyan 01.

Atas kata sepakat dari kelima Kepala Sekolah, yakni Kepala Sekolah SD Ngaliyan 01, Kepala Sekolah SD Ngaliyan 02, Kepala Sekolah DSn Ngaliyan 04, Kepala Sekolah SD Ngaliyan 05, dan Kepala Sekolah SD Ngaliyan 07, kelima SD tersebut berubah nama menjadi SD Ngaliyan Kampus.

Pada saat Ibu Sutini, S.Pd (2005-2007) menjabat sebagai Kepala Sekolah, dibentuklah SD Koalisi Nasional Ngaliyan 01, 03, 07.

Pada tahun 2010, ketika Bapak H. Munjirin, S.Pd (2007-2012) menjadi Kepala Sekolah, SD Koalisi Nasional 01, 03, 07 berubah nama kembali menjadi SD Negeri Ngaliyan 01.

Kepala Sekolah setelah Bapak H. Mujirin, S.Pd. adalah Bapak Slamet Riyadi, S.Pd., M.Pd. yang pada awalnya menjabat sebagai Plt dari tanggal 01 Desember 2012 sampai dengan 28 Januari 2014, namun diangkat sebagai Kepala Sekolah pada tanggal 29 Januari 2014.

Pada tanggal 25 Agustus 2016, Bapak H. Slamet Riyadi, S.Pd., M.Pd. kemudian digantikan oleh Ibu Hj. Nurlaini Purwaningsih, S.Pd. sebagai Kepala Sekolah sampai Bulan November 2020. Pada awal Bulan Desember 2020 hingga akhir bulan Agustus 2021, Ibu Dwi Setyowati, S.Pd., M.M memegang tonggak kepemimpinan sebagai Plt di SD Negeri Ngaliyan 01. 

Saat ini, mulai Bulan September 2021, Kepala Sekolah di SD Negeri Ngaliiyan 01 dijabat oleh Ibu Ngatiningsih, S.Pd.